Senin, 14 September 2020

RINDU - Sebuah Cerita Pendek

RINDU

By arfabi


 


Sudah 3 Hari, Langit di Kota Kudus diselimuti awan hitam. Mendung, tapi tidak pernah hujan. Hanya saja gerimis-gerimis kecil yang muncul beberapa saat, kemudian reda lagi. Begitu terus, sehingga membingungkan orang-orang mau pakai jas hujan atau tidak. Begitu pula dengan Rena, Siswa kelas tiga di salah satu SMK Negeri di Kudus.


Seperti biasanya, Rena pulang dari Sekolah dijemput oleh Tukang Ojek langganan Keluarganya. Namanya Pak Ridwan, yang selalu mengantar jemput Rena dari kelas 1 SMP. Ayahnya Rena, sudah sangat percaya kepada Pak Ridwan. Kadang, Rena malah dititipkan ke Rumah Pak Ridwan kalau Ayah dan Mama Rena harus Keluar kota ada urusan Pekerjaan.


Pak Ridwan sudah dianggap keluarga sendiri oleh Keluarga Rena.


Sampai didepan gerbang Rumah Rena, Rena membuka gerbang sendiri. Beberapa hari ini, ayahnya memberikan kunci gerbang sendiri. Latihan mandiri katanya, sehingga gak teriak-teriak lagi memanggil Mamanya jika sudah sampai Rumah.


“Mau bapak temenin saja nduk? Sambil nunggu Ayahmu Pulang?” Tanya pak Ridwan yang kasihan melihat Rena masih saja Murung


“Ndak usah Pak.” Jawab Rena dengan muka datar


“Ini masih jam 4 Sore lho, Ayahmu palingan Pulang Maghrib” Tawar pak Ridwan kembali


“Iya pak, Bapak Pulang aja, ditunggu Sinok lho” Tolak rena, Sinok adalah Anak satu-satunya Pak Ridwan yang biasa main sama Rena kalau rena menginap dirumahnya Pak Ridwan.


Pak Ridwan pun bergegas Pulang, memakai kembali Jaket Waterproofnya, untuk menghindari kebasahan dari titik-titik gerimis kecil yang lama-lama akan membahasi juga. 


Beberapa saat, Pak Ridwan sudah menjauh dari Rumah Rena, Rena kembali masuk ke Rumah. Membuka kembali Pintu Rumah, tentu saja dengan kunci dari Pemberian ayahnya.


Rena bergegas keatas, Lantai dua, dimana letak kamar Rena berada. Setelah membuka Pintu Kamar, Rena agak kaget, melihat Mamanya disana. Mamanya melihat beberapa foto yang duduk diatas meja belajar Rena. Orangtua Rena memang sangat menyayangi anaknya, hampir disetiap tumbuh kembang Rena terdapat foto-foto dokumentasinya. Diatas meja belajar Rena, terdapat Foto Rena yang masih Bayi, TK, SD, SMP hingga ke SMK saat ini.


“Lho, kamu sudah pulang, kok gak salam?”


“Iii…yaa Maa, maaf.”


Mamanya kembali melihat foto-fotonya Rena diatas meja.


“Kamu kok cepet banget gedenya yaa nduk?” Sahut Mama Rena


“Mama masih inget lho, waktu kamu Umur tiga tahun, Mama masih suka gendong kamu. Ayahmu paling yang sering marah. Wes gede lho anakmu buk, mosok digendong terus. Ayahmu selalu bilang gitu. Padahal Mama kan seneng gendong kamu. Kamu juga mesti manja kalau sama Mama, Minta gedong mulu” Tambah si Mama


Rena masih diam saja, dia terharu, sedih, bahagia semuanya campur aduk menjadi satu bergejolak di hatinya.


“Apalagi waktu kamu kelas I SD, ayahmu beliin kamu sepeda. Kamu ajak temen-temen komplek balapan sepeda. Ya tentu saja, kamu yang menang. Wong tenagamu, tenaga laki-laki. Ibu-Ibu komplek sampai protes lho ke Mama, anaknya pada nangis karena kamu kalahin balapan. Sampai Mama harus tekor beliin mereka permen satu-satu biar ndak nangis lagi”


“Sekarang kok rasanya cepet sekali ya, Kamu udah gede, udah mau lulus SMK, bentar lagi mau kuliah ke Jogja juga.” Mamanya perlahan mengeluarkan air matanya


“Mama, gak papa?”


“Iya, gak papa.”


“Paling nanti kalau kamu gak disini, Rumah ini jadi sepi gak ada kamu,”


Sesaat kemudian, Mamanya kaget.


“LHOO. . . ini kok buku-bukunya berantakan banget?” Bentak Mamanya, yang marah sadar, ternyata disisi kanan meja, buku-buku Rena berserakan. Semenjak tiga hari ini, Kamar Rena sudah berantakan nggak beraturan.


“Kata ayahmu kamu mau belajar mandiri. Kamar sendiri aja masih berantakan gini ren, gimana kalau kamu ngekos besok?”


Beberapa saat, Mamanya rena ingin merapikan Buku Buku Rena, 


“JAAANGAAAN, Maa. . .” Teriak Rena yang melaran Mamanya menyentuh Buku-Bukunya.


“Gapapa, toh dari Kecil Mama terus yang bersihin kamarmu ini. . “


“Jangaan Maa, kan aku mau belajar mandiri”


“Gapapa, Kamu ganti baju aja dulu, ini biar Mama yang beresin.”


“Pokoknya jangan maa, itu ada buku Diarinya Rena, Rena malu kalau Mama baca”


“Yasudah, kamu rapikan sendiri aja” . .  Rena pun merapikan Buku-Bukunya, 


“Mama, kebawah dulu yaa, mau ambilin kamu Susu anget, capek banget pasti kamu disekolah”


Belum juga selesai semua buku tertata, Mamanya Rena bergegas keluar dari Kamar. Teringat akan sesuatu, Rena langsung berlari menyusul Mamanya.


“Maaaaah. . “


“Nggak usah, maa, biar rena sendiri yang bikin. “


“Gak papa, dari dulu kan Mama pasti bikinin kamu minum, nyiapin kamu makan, bahkan itu kaos kaki mu yang bau. Mama terus yang cuci”


“Gini aja mah gampang,”


“apalagi ayahmu sekarang larang-larang Mama bantu kamu lagi”


“Iya ma, rena udah gede kok, bisa semuanya sendiri. Sekarang Mama istirahat aja, duduk-duduk di Sofa aja” sambil nunjuk Sofa didepan TV. Letak dapur Rumah ini memang dekat dengan Ruang Keluarga, setiap mau ke dapur pasti melewati Ruang Keluarga yang ada TV dan Sofa besarnya.


“Ini sebenernya ada apa sih? Kamu sama ayahmu, Kok suka larang-larang Mama untuk bantu kamu”


“Kan dari kecil yang ngerawat kamu itu Mama, yang mandiin kamu itu Mama, yang bikinin kamu makan juga Mama, Ayahmu mana pernah, udah sMamak dikantor”


Rena menangis, menangis tersedu. . .


“Ren, jangan nangis sayang, udah-udah, iyaa gak papa, Mama gak bantuin kamu lagi nih, “


“iya Mama ini istirahat nih”


Rena, menangis, semakin kencang. . 


Mamanya pun bingung, disisi lain ia harus bangga, anak semata wayangnya sekarang sudah berubah 180 derajat dari biasanya. Biasanya rena paling malas untuk pekerjaan rumah. Mamanya yang selalu menyiapkan segalanya. Mulai dari sarapan, Minum susu, bahkan baju-baju rena pun disiapin oleh Mamanya. 


Mamanya pun masih belum yakin, anaknya bisa bikin mie instan sendiri atau ndak, terakhir ia disuruh buat masak air aja sampai gosong alias sampai airnya habis menguap karena lupa diangkat setelah mendidih hampir setengah jam yang lalu.


Kali ini, berbeda. Rena sudah disuruh ayahnya untuk mandiri, menyiapkan sarapan sendiri, menyiapkan baju seragam sendiri, bersih-bersih rumah sendiri. 


Rena masih saja menangis, matanya masih lancar mengeluarkan air mata sedikit, demi sedikit.


“Kamu kenapa sayang, kamu gak mau kuliah di jogja?, jauh dari Rumah?”


Rena menggelengkan kepala


“Lah terus apa ,Apa kamu nggak suka dengan Jurusan pilihan ayah?”


Rena masih saja menggeleng dengan masih berair matanya.


“Mama sudah bilangin ke Ayahmu lho, biar kamu milih sendiri jurusannya, gak usah dipaksakan masuk ke kampus ayahmu dulu itu.”


“kan masa depan cerah gak melulu kerja di kantor”


“Kamu kan udah gede, generasi Z lagi, harusnya kan bebas milih sukamu apa, bakatmu apa”


“Kamu gak mau, nerusin bakat kamu yang indigo-indigoan gitu? Kan kamu kadang-kadang bisa tuh lihat hantu,  gak mau jadi kayak idolamu yang kamu tonton di youtube itu, siapa namanya Rita Sarasvati”


“Risa maah. . “


“Oh iya, jangan sedih sayang, kamu sudah besar kok”


‘Sini Mama peluk”


“ndak usah mah,”


“Gak papa, sini”


“Jangan maa, risa malu udah gede minta peluk sama Mama”


“gapapa, kamu kan masih kecil”


Mamanya pun langsung bergeser ke sofa rena, 


“Jaaa. . ngaaan maa”


Haaap, langsung dipeluknya rena kepelukan Mamanya.


Aneh, Mama rena merasa aneh, tangan Mamanya tidak bisa memeluk anaknya. Tangannya tembus ke tubuh Rena.


Mamanya rena kaget bukan kepalang


“Kok. . bisa??”””


Rena yang tadi masih menetes air mata, semakin tambah kencang tangisannya. Ia tahu kalau Mamanya sudah mulai menyadari sesuatu. Ia tak bisa menjelaskan ke Mamanya, hanya air mata yang tambah deras mengalir ke pipinya.


“Maafin rena maa”


“Mama kenapa ren?”


“Kok Mama gabsa meluk kamu ren?”


“Maafin rena maa”


“Apa Mama sudah gak ada ren?”

“Maaaaaa. . . . .” semakin menangis rena


“Kok bisa ren?”


“3 hari yang lalu, Mama nyusul rena ke sekolah, Mama nemu buku Rena yang ketinggalan, trus Mama cepet-cepet mau kesekolah rena nganter buku. Mama langsung naik motor, padahal Mama tidak terlalu bisa naik motor, Mama akhirnya ditabrak sama truk yang lewat maa.”


“Mamaa nggak selamat, ketika dibawa sama Pak Ridwan kerumah sakit, maafin rena maa”


“Gara-gara rena, Mama jadi begini. . “ Beberapa saat kemudian, arwah Mamanya menghilang, pudar perlahan lahan.


Rena masih saja menangis bersedih. Sejak pulang dari sekolah dan melihat arwah Mamanya masih berada di kamar rena tadi. Rena tidak bisa berkata-kata banyak, ia tak bisa bertanya kepada Mamanya. Disatu sisi, ia rindu sekali dengan Mamanya, disatu sisi ia sadar, bahwa apa yang dilihatnya hanya arwahnya yang tidak bisa disentuh. Ia semakin menangis ketika sadar bahwa ketika sudah jadi arwah saja Mamanya masih memikirkan rena, kebutuhan rena.


“semoga Mama tenang di surga ma”


“Terima kasih ma!”


“Dimanapun kamu, apapun profesimu, setinggi apapun derajatmu, selalu ada Ibu, yang selalu memberikan kasihnya dengan caranya”


The END



EmoticonEmoticon